Minggu, 13 Desember 2015

19.07 - No comments

HUSNUL KHOTIMAH DAN SU'UL KHOTIMAH

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat bloggerku fillah kali ini guru saya Ustadz Asep Saefulloah akan mengajarkan kita tentang husnul khotimah dan su'ul khotimah mari kita simak bersama-sama

HUSNUL KHOTIMAH DAN SU’UL KHOTIMAH·

A.    AYAT-AYAT ALQUR’AN TENTANG KEMATIAN

Dari ayat-ayat al-qur’an dibawah ini kita dapat mengetahui bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti terjadi kepada setiap makhluk Allah swt yang bernafas dan waktunya sudah ditentukan. Tetapi kita tidak dapat mengetahui kapan, dimana dan bagaimana makhluk menemui ajalnya, karena semuanya itu hak prerogatif Allah. Bagi hamba Allah yang beriman tidak peduli kapan, dan dimana ia mati, tetapi ia sangat peduli bagaimana ia mati, dalam keadaan apa ia mati. Dalam keadaan baik (husnul khotimah) atau dalam keadaan buruk (su’ul khotimah ). Karena itulah kita berusaha dan berdo’a agar wafat dalam keadaan baik (husnul khotimah).
 كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٥٧
Artinya : “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”.
(QS.AL-ANKABUT [29] : 57)
كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

Artinya : “ tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”.(QS.AL-ANBIYA [21] : 35)
كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥

Artinya : “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS.ALI IMRAN [3] : 185)
قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي ضَرّٗا وَلَا نَفۡعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَ‍ٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٤٩

Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". tiap-tiap umat mempunyai ajal (masa keruntuhannya). apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS.YUNUS [10] :49)


قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٨

Artinya : “Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS.AL-JUMU’AH [62] : 8)


B.     PENGERTIAN HUSNUL KHOTIMAH

HUSNUL KHOTIMAH terambil dari dua kata, yaitu husnul yang berarti terbaik, khotimah yang berarti akhirnya. Jadi, HUSNUL KHOTIMAH artinya akhir hidupnya terbaik, wafat dalam kondisi terbaik.
HUSNUL KHOTIMAH merupakan suatu kondisi yang mana seseorang hamba diberi taufiq oleh Allah swt sebelum datangnya kematian untuk meninggalkan segala macam perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah swt, dan ia di beri hidayah oleh Allah swt untuk bertaubat dari segala dosa dan maksiat dan bersegera melakukan ketaatan dan perbuatan baik, kemudian dia menutup usianya diatas kebaikan.
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda : “Apabila Allah memnghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan mempekerjakannya. Para sahabat bertanya : Bagaimana Allah swt akan mempekerjakannya ? Rasulullah saw bersabda : ”Allah akan memberikan taufiq/hidayah kepadanya untuk beramal sholeh sebelum ia meninggal dunia.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi dan dishohihkan oleh Al-Hakim, Dhiya al-Maqdisi, al-Arna’ut dan Al-Albani).

C.    ISYARAH AL-QUR’AN TENTANG HUSNUL KHOTIMAH :
Allah swt berfirman tentang seseorang yang diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah dan termasuk orang-orang yang bahagia :
ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٣٢

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam Keadaan baik[1] oleh Para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum[2], masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".
(QS.AN-NAHL [16] : 32)

D.    TANDA-TANDA HUSNUL KHOTIMAH

Secara garis besar,tanda-tanda HUSNUL KHOTIMAH memiliki dua tanda, yaitu tanda yang dapat disaksikan langsung oleh si mayit dan tanda yang dapat disaksikan oleh manusia.
Adapun tanda-tanda husnul khotimah yang dapat disaksikan langsung oleh si mayit adalah : kabar gembira yang diberikan kepadanya tatkala kematian mendatanginya, kabar gembira tersebut berupa keridhoan Allah swt kepadanya dan ia akan memperoleh kemuliaan dari Allah swt. Hal tersebut merupakan karunia yang diberikan Allah swt kepadanya.
Sebagaimana firman Allah :
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".(QS.FUSHILAT [41] : 30)

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang suka bertemu dengan Allah, maka Allah-pun suka bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa yang benci bertemu Allah, maka Allah-pun benci bertemu dengannya.” Aisyah ra berkata : “Wahai Nabi Allah apakah yang engkau maksud adalah kebencian terhadap kematian ? Sesungguhnya kita semua benci terhadap kematian”. Rasulullah saw bersabda : “Bukan demikian, akan tetapi seorang Mukmin apabila ia diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhoan dan surga Allah, ia suka bertemu dengan Allah, dan sebaliknya orang kafir apabila diberitakan kepadanya tentang azab dan kemurkaan Allah, ia benci bertemu dengan Allah, maka Allah-pun benci bertemu dengannya.”
Sedangkan berdasarkan hadis tentang tanda-tanda husnul khotimah, diantaranya  yaitu :
1.      Mereka yang dapat mengucapkan TAHLIL menjelang kematian, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis shahih, diantaranya Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya ‘LA ILA HA ILALLAH’ maka dia masuk surge” (Hadis Hasan).
2.      Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh. Hal ini berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib ra, dari Buraidah bin Khusaib ra bahwa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata : “ALLAHU AKBAR”, aku mendengar Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : “Kematian seorang Mukmin disertai keringat di keningnya” (hadis shahih).
3.      Mereka yang (baik dan sholeh) meninggal dunia pada malam jum’at atau hari jum’at. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw : “Tidaklah seorang Muslim yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan Allah melindunginya daripada siksa kubur”.
4.      Meninggal dalam keadaan syahid fisabilillah di medan perang.
Dalam al-qur’an, Allah swt berfirman :
وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ ١٦٩
فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَيَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمۡ يَلۡحَقُواْ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٧٠
۞يَسۡتَبۡشِرُونَ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٧١

Artinya : “169. janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[3] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
170. mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[4], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
171. mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. ALI IMRAN [3] : 169-171)

Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “orang yang syahid mendapatkan 6 hal : diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dasyat di hari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, diizinkan memberi syafaat bagi 70 anggota keluarganya.”
5.      Mereka yang meninggal dunia ketika berjuang di jalan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Apa yang kalian nilai sebagai syahid antara kalian ? Mereka berkata : Ya Rasulullah, siapa yang terbunuh dijalan Allah, maka dia syahid. Beliau bersabda : Jadi sesungguhnya syuhada umatku sedikit.” Mereka berkata : Lalu siapa mereka ya Rasulullah ? Beliau bersabda : “Barang siapa yang terbunuh di jalan syahid, barang siapa yang mati karena wabah taun syahid, barangsiapa yang mati karena penyakit perut syahid, dan orang yang tenggelam syahid.”
6.      Mati karena satu wabah penyakit thaun. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Wabah thaun adalah kesyahidan bagi setiap Muslim”
7.      Mereka yang mati karena penyakit perut,sebagaiman hadis diatas.
8.      Mereka yang mati karena tenggelam dan terkena runtuhan. Berdasarkan sabda Rasulullah saw : “Syuhada ada 5 : yang mati karena wabah thaun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid di jalan Allah.”
9.      Matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya. Dari Ubadah bin Shamit ra bahwa Rasulullah saw menjenguk Abdullah bin Rawahah ra dan berkata : Beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata : “Tahukah kamu siapa syuhada dari umatku  Mereka berkata : terbunuhnya seorang Mukmin adalah syahid. Nabi saw bersabda : “Jadi sesungguhnya para syuhada umatku, terbunuhnya seorang Muslim syahid, mati karena wabah thaun syahid, wanita yang mati karena janinnya syahid (ditarik anaknya dengan tali arinya ke surge).”
10.  Mereka yang mati karena terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada di tulang rusuk. Ada beberapa hadis yang terkait. Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’ : “Syuhada ada 7 selain terbunuh dijalan Allah : yang mati karena wabah thaun syahid, yang tenggelam syahid, yang mati karena sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid, yang sakkt perut syahid, yang mati terbakar syahid, yang mati terkena runtuhan syahid, dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid.”
11.  Mereka yang mati karena mempertahankan hartanya yang hendak dirampas. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang terbunuh karena hartanya (dalam riwayat : barangsiapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh) maka dia syahid.”
12.  Mereka yang mati karena mempertahankan agama dan dirinya. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang terbunuh karena hartanya syahid, karena keluarganya syahid, barangsiapa yang terbunuh karena agamanya syahid, barangsiapa yang terbunuh karena darahnya syahid.”
13.  Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga-jaga di perbatasan) di jalan Allah. Rasulullah saw bersabda :Ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamul lail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah.”
14.  Mati ketika melakukan amal sholeh. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang mengucapkan “LA ILA HA ILALLAH” mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk surga, barangsiapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surge, barangsiapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk surge.”
15.  Mereka yang di bunuh oleh penguasa zhalim karena memberi nasehat kepadanya. Rasulullah saw bersabda : “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseoran yang mendatangi penguasa yang zhalim, lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang munkar lalu dia dibunuhnya.” Hadis dikeluarkan oleh Hakim dan dishahihkannya dan al-khatib.

E.     ISYARAH AL-QUR’AN TENTANG SU’UL KHOTIMAH :
Sebaliknya Allah swt berfirman tentang seseorang yang dimatikan dalam keadaan su’ul khotimah dan termasuk orang-orang yang celaka :
ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۢۚ بَلَىٰٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٢٨
فَٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ فَلَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ٢٩

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan".
29. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (QS.AN-NAHL [16] : 28-29)


F.     HUSNUL KHOTIMAH DAN SU’UL KHOTIMAH ADALAH TOLAK UKUR

Husnul khotimah dan su’ul khotimah merupakan perkara yang sangat agung, sebab ia dapat menjadi tolak ukur kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang, ia juga merupakan cermin dari amal perbuatan seseorang ketika berada dimasa-masa lapang, sehat dan sejahtera. Husnul khotimah dan su’ul khotimah merupakan tolak ukur memasuki alam kubur (barzah). Jika seseorang wafat dalam keadaan husnul khotimah maka ia mendapatkan tempat “roudhoh min riyadil jannah” Taman Surga di alam barzah, tetapi sebaliknya jika ia mati dalam keadaan su’ul khotimah maka ia mendapatkan tempat “hufroh min hufratin nar” Kubah dari api neraka, ia mendapatkan siksa kubur.
            Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung akhirnya.”(HR.Ibnu Hibban dishahihkan oleh Al-Albani).
Sopyan ats-Tasury rohimahullah adalah salah seorang contoh ulama yang memiliki kekhawatiran yang besar terhadap perkara husnul khotimah. Beliau suatu ketika pernah menangis kemudian berkata : “Aku khawatir akan sirnanya iman tatkala datangnya kematian”.

G.    DO’A AGAR WAFAT HUSNUL KHOTIMAH
رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيٗا يُنَادِي لِلۡإِيمَٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَ‍َٔامَنَّاۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّ‍َٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ ١٩٣

Artinya : “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti”. (QS.ALI IMRAN [3]:193)

قُلِ ٱنظُرُواْ مَاذَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَمَا تُغۡنِي ٱلۡأٓيَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوۡمٖ لَّا يُؤۡمِنُونَ ١٠١

Artinya :  “Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".(QS.YUNUS [10] :101)
وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ١٢٦

Artinya :  “dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami". (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)". (QS.AL-A’RAF [7] : 126)

H.    KUTIPAN DARI KITAB TANBIHUL GHOFILIN DAN DURRATUN NASIHIN TENTANG KEMATIAN

1.      TIGA KEMULIAAN ORANG YANG BANYAK MENGINGAT MATI
وَذُكِرَ عَنْ اَبِى حَامِدْ الَّلفَافِ اَنَّهُ قَالَ : مَنْ اكْثَرَ مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ  اُكْرَمُ بِـثَلَاثَةٍ: تَعْجِيْلُ التَّوْبَةِ وَقَنَاعَةُ الْقُوْتِ وَنَشْاَةِ الْعِبَادَةِ                   (تنبيه الغافلين صحيفة : ۱٠)
Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hamid al-Laffaf ia berkata : Barangsiapa banyak mengingat mati, maka ia akan dimuliakan dengan tiga hal, yaitu :
1.      Segera bertaubat
2.      Tenang dalam mencari rezeki
3.      Semangat dalam beribadah
2.      TIGA AKIBAT ORANG YANG BANYAK MELUPAKAN MATI
وَمَنْ  نَسِيَ عَنِ الْمَوْتِ عُقِبَ بِـثَلَاثَةِ اَشْيَــــاءَ: تَسْوِيْفُ التَّوْبَةِ وَتَرْكُ الرِّضَى وَالتَّكَسُّلُ فِى الْعِبَادَةِ  
(تنبيه الغافلين صحيفة  صحيفة : ۱٠)
Artinya : “Dan barangsiapa yang melupakan mati, maka ia akan disiksa  dengan tiga hal, yaitu :
1.     Mengakhir-akhirkan taubat
2.    Tidak pernah cukup dalam masalah rezeki
3.    Bermalas-malasan dalam beribadah
3.      TIGA KALI KUBURAN MENGATAKAN SETIAP HARI
وَرُوِىَ عَنْ عَلِى كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ اَنَّهُ قَالَ اَﻵ وَ إِنَّ الْقَبْرَ يَتَكَلَّمُ فِى كُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثَ مَرَاتٍ فَيَقُوْلُ اَنَا بَيْتُ الظُّلْمَةِ وَاَنَا بَيْتُ  الْوَحْشَةِ وَاَنَا بَيْتُ الدِّيْدِ  (تنبيه الغافلين صحيفة : ۱٣)
Artinya : “Diriwayatkan dari Ali r.a. bahwasanya Kubur itu setiap hari berbicara tiga kali dengan perkataan
1.       Aku adalah rumah gelap
2.       Aku adalah rumah duka
3.       Aku adalah rumah ulat/belatung.”
4.      TIGA HAMBA YANG PALING JAHAT DAN TIGA PENYEBAB SIKSA KUBUR
وَرُوِىَ عَنْ قَتَادَةَ اَنَّهُ قَالَ كَانَ يُقَالُ مِنْ شَرِ عِبَادِ اللهِ تَعَالٰى كُلُ طَعَانٍ لُعَانٍ نَمَّامٍ وَكَانَ يُقَالُ عَذَابَ الْقَبْرِ ثَلَاثُ اَثْلَاثٍ ثُلُثٌ مِنَ الْغِيْبَةِ وَثُلُثٌ مِنَ اْلبَوْلِ وَثُلُثٌ مِنَ النَّمِيْمَةِ            (تنبيه الغافلين صحيفة : ٨٩)
Artinya : “Diriwayatkan dari Qatadah, bahwa ia berkata, “Termasuk hamba yang paling jahat adalah :
1.       Orang yang suka menghina;
2.       Orang yang suka mecaci maki; dan
3.       Orang yang suka mengadu domba.
Diceritakan, bahwa siksa kubur itu disebabkan karena tiga bagian :
1.       Sebagian karena menggunjing;
2.       Sebagian karena kencing (yang tidak bersih sewaktu bersuci);
3.       Sebagian lagi karena mengadu domba”.

4.      TIGA PANGGILAN KETIKA RUH SUDAH BERCERAI  DENGAN TUBUH
وَفِى الْخَبَرِ : اَنَّهُ اِذَا فَارَقَ الرُّوْحَ الْبَدَنَ نُوْدِىَ مِنَ السَّمَاءِ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ، أَتَرَكْتَ الدُّنْيَا اَمِ الدُّنْيَا تَرَكَتْكَ ؟ يَابْنَ اٰدَمَ، اَجَمَعْتَ الدُنْيَا اَمِ الدُّنْيَا جَمَعَتْكَ؟ يَابْنَ اٰدَمَ، ؟ اَقَتَلْتَ الدُّنْيَا اَمِ الدُّنْيَا قَتَلَتْك (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Disebutkan dalam suatu hadis, bahwa ketika ruh sudah bercerai dengan tubuhnya, ada tiga panggilan dari langit, yaitu :
1.       Hai anak Adam, Engkau biarkan dunia, atau dunia yang membiarkan/ meninggalkanmu?
2.       Engkau himpun dunia atau dunia yang menghimpunmu?
3.       Engkau bunuh dunia atau dunia membunuhmu?”.

5.      TIGA PANGGILAN KETIKA JASAD DITARUH  DI TEMPAT PEMANDIAN
وَاِذَا وَضَعَ الْمُغْتَسِلُ نُوْدِىَ مِنَ السَّمَاءِ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ اَيْنَ بَدَنُكَ الْقَوِىُّ مَا اَضْعَفَكَ ؟ وَاَيْنَ لِسَانُكَ الْفَصِيْحُ مَا اَسْكَتَكَ ؟ وَاَيْنَ اُذُنَيْكَ السَّامِعَةَ، مَااَصَمُّكَ ؟ وَاَيْنَ اَحِبَّئُكَ الْخَلَصَ، مَا اَوْحَشَكَ ؟ (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Ketika mayat ditaruh pada tempat pemandian, ada tiga panggilan :
1.       Hai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat, apakah yang sekarang mengakibatkan lemah, dan dimana lisanmu yang fasih, apakah yang membungkammu sekarang?
2.       Dimanakah telingamu yang dulu mendengar, apakah yang menyebabkan kamu tuli?
3.      Dimanakah kekasihmu yang mulus, apakah yang mengakibatkan engkau kesepian?”.

6.      TIGA PANGGILAN KETIKA JASAD DIBUNGKUS DENGAN KAIN KAPAN
وَاِذَا وَضَعَ فِى الْكَفْنِ نُوْدِىَ مِنَ السَّمَاءِ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ طُوْبٰى لَكَ اِنْ صَحْبُكَ رِضْوَانَ اللهِ، وَوَيْلٌ لَكَ اِنْ صَحْبُكَ  سُخْطُ اللهِ. يَابْنَ اٰدَمَ طُوْبٰى لَكَ اِنْ كَانَ مَأوَاكَ الْجَنَّةُ وَوَيْلٌ لَكَ اِنْ كَانَ مَأوَاكَ النِّيْرَانُ. يَابْنَ اٰدَمَ تَذْهَبُ اِلَى سَفَرٍ بَعِيْدٍ بِغَيْرِ زَادٍ وَتَخْرُجُ مِنْ مَنْزِلِكَ فَلَا تَرْجِعُ اِلَيْهِ اَبَدًا اْلاَبَادَ وَتَصِيْرُ اِلَى بَيْتِ اْلاَحْوَالِ (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Keika jasad/ mayit dibungkus dengan kain kafan, ada tiga panggilan :
1.       Hei anak Adam, berbahagialah jika engkau ridha Allah mendampingimu, sebaliknya celakalah jika Allah yang menemanimu.
2.       Hei anak Adam, berbahagialah jika tempat kediamanmu berupa surga dan sebaliknya celakalah, jika tempat kembalimu neraka.
3.       Hei anak Adam, engkau tempuh perjalanan jauh tanpa bekal, dan engkau pergi dari rumahmu tiada kembali untuk waktu tiada terbatas dan engkau menjadi penghuni rumah mencekam penuh bahaya.

7.      TIGA PANGGILAN KETIKA JENAZAH DIUSUNG KE LIANG LAHAD
وَاِذَاحُمِلَ عَلَى الْجَنَازَةِ نُوْدِىَ مِنَ السَّمَاءِ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ طُوْبٰى لَكَ اِنْ كَانَ عَمَلُكَ خَيْرًا وَطُوْبٰى لَكَ اِنْ كُنْتَ تَائِبًا وَطُوْبٰى لَكَ اِنْ كُنْتَ مُطِيْعًا لِلّٰهِ تَعَالٰى     (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Ketika jenazah diusung, ada tiga panggilan :
1.       Hei anak Adam, berbahagialah jika amalmu baik
2.       Berbahagialah jika engkau suka bertaubat
3.       Berbahagialah jika engkau suka taat kepada Allah SWT”.

8.      TIGA  PANGGILAN KETIKA JENAZAH HENDAK DI SHALATKAN
وَاِذَا وَضَعَ لِلصَّلَاةِ نُوْدِىَ مِنَ السَّمَاءِ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ  : يَابْنَ اٰدَمَ كُلُّ عَمَلٍ عَمِلْتَهُ تَرَاهُ السَّاعَةَ فَاِنْ كَانَ عَمَلُكَ خَيْرًا تَرَاهُ خَيْرًا وَاِنْ كَانَ عَمَلُكَ شَرًّا تَرَاهُ شَرًّا  (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Ketika jenazah/ mayit ditaruh untuk dishalati, ada tiga panggilan :
1.       Hai anak Adam, setiap amal yang kau lakukan, kini engkau melihatnya.
2.       Jika amalmu baik, maka engkau pun melihatnya baik
3.       Dan jika amalmu buruk, maka engkau melihatnya buruk pula”.
9.      TIGA  PANGGILAN KETIKA JENAZAH DILETAKKAN DI TEPI KUBUR
وَاِذَا وَضَعَتِ الْجَنَازَةُ عَلَى شَفِيْرِ الْقَبْرِ نُوْدِىَ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ مَا تَزَوَّدْتَ مِنَ الْعُمْرِ اِنَّ لِهٰذَا الْحَرْبِ وَمَا حَمِلْتَ مِنْ الْغَنِيِّ لِهٰذَا الْفَقِيْرِ وَمَا حَمِلْتَ مِنَ النُّوْرِ لِهٰذِهِ الظُّلْمَةِ      (درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Ketika jenazah diletakkan di tepi kubur, ada tiga panggilan :
1.       Hai anak Adam, bekal kemakmuran apa yang engkau bawa ke tempat sesunyi ini?
2.       Harta benda apa, yang engkau bawa ke tempat sefakir ini?
3.       Sinar penerang apa yang engkau bawa ke tempat segelap ini?”.

10. TIGA  PANGGILAN KETIKA JENAZAH DIBARINGKAN DI LIANG LAHAD
وَاِذَا وَضَعَ فِى اللَّحْدِ نُوْدِىَ بِثَلَاثِ صَيْحَاتٍ : يَابْنَ اٰدَمَ، كُنْتَ عَلَى ظَهْرِى ضَاحِكًا فَصِرْتَ عَلَى بَطْنِى بَاكِيًا، وَكُنْتَ عَلَى ظَهْرِى فَرَحًا فَصِرْتَ فِى بَطْنِى خَزِيْنًا وَكُنْتَ عَلَى ظَهْرِى نَاطِقًا فَصِرْتَ فِى بَطْنِى سَاِكتًا
(درة الناصحين صحفة : ٢٢٠)
Artinya : “Ketika jenazah dibaringkan di liang lahad, ada tiga panggilan :
1.       Hai anak Adam, bekal kemakmuran apa yang engkau bawa ke tampat sesunyi ini?
2.       Harta benda apa, yang engkau bawa ke tempat sefakir ini?
3.       Sinar penerang apa yang engkau bawa ke tempat segelap ini?”.

11.  EMPAT HAL YANG HARUS DILAKUKAN DAN DITINGGALKAN AGAR SELAMAT DARI SIKSA KUBUR
قَالَ الْفَقِيْه رَحِمَهُ اللهُ مَنْ اَرَادَ اَنْ يَنْبَحُوَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ فَعَلَيْهِ اَنْ يُلاَ زِمَ اَرْبَعَةُ اَشْيَآءَ وَيَجْتَنِبَ اَرْبَعَةُ اَشْيَآءَ فَامَّا اْلاَرْبَعَةُ اَّلتِى يُلَازَمُهَا فَمُحَافَظَةُ الصَّلَوَاتِ وَالصَّدَقَةِ وَقِرَآءَةُ الْقُرْآنِ وَكَثْرَةُ التَّسْبِيْحِ فَاِنَّ هٰذِهِ اْلاَشْيَآءَ تُضِىءَ اْلقَبْرِ وَتَوَسَّعَهُ    وَاَمَّا اْلاَرْبَعَةُ اَّلتِى يَجْتَنِبُهَا فَااْلكِذْبُ وَاْلخِيَانَةُ وَاْلنَّمِيْمَةُ وَاْلبَوْلُ
 (ننبيه الغافلين صحفة ١۳ من باب عذاب القبر وشدّته)
Artinya :  "Al-Faqih memberikan nasehat, bahwa barangsiapa ingin selamat dari siksa kubur, maka ia harus senantiasa mengerjakan empat hal dan menjauhkan diri dari empat hal. Empat hal yang harus selalu dikerjakan itu adalah :1) Shalat, 2) Sedekah, 3)Membaca al-qur’an   dan 4) Banyak membaca tasbih.
Keempat hal itu akan membuat kuburnya terang dan lapang. Sedangkan empat hal yang harus ditinggalkan adalah :1) Dusta, 2)Khianat, 3)Adu domba, dan 4)Berhati-hati dalam masalah kencing.”




[1] Maksudnya: wafat dalam Keadaan suci dari kekafiran dan kemaksiatan atau dapat juga berarti mereka mati dalam Keadaan senang karena ada berita gembira dari Malaikat bahwa mereka akan masuk syurga.
[2] Artinya selamat sejahtera bagimu.
[3] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana Keadaan hidup itu.
[4] Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah s.w.t.

0 komentar:

Posting Komentar